Posts

Showing posts from October, 2020

Ziarah 2

Kumakamkan senyummu tanpa pusara Tak ada lagi alamat untuk menziarahinya Desas-desus persekongkolan tangis dan amarahmu tercium anyir  Mereka sepakat mengikat dan menghapusmu dari hidupku. Baiklah aku sendiri saat ini Mencumbui sepi Berbagi kopi dengan segala khayal sampai pada puncak kehilangan yang mendorongku jatuh ke jurang Aku gila, aku sekarat Aku merangkak ke lorong-lorong sempit dalam ingatanku Tertatih mencari makam senyummu tiga hari lalu Aku masih ingat bahwa aku yang menggali makamnya disamping bunga Kamboja Ah.. itu dia! Kubongkar dengan cakarku saat gerimis tengah malam Jasadnya masih cantik dan wangi seperti pertama kali ku temui di taman kota. M. Amin Ashar

Ziarah 1

Aku masih termenung di bawah bungkus nasi ayam yang tak kau habiskan semalam Aku lemah Mataku memasang portal larangan bagi para kantuk yang ingin menziarahi makam ingatanku yang lusuh Aku resah Habis kubaca berita kematian hujan dari koran bungkus nasimu itu Tak akan ku biarkan kau membacanya Aku bangga Senyummu melintas mendahului segala keresahanku yang berangkat naik angkot Meninggalkan kita di warung pinggir jalan. Tapi sialan... Tinggal tangis dan amarahmu yang duduk makan bersamaku Segala leluconku mati dikeroyok mereka berdua Sudah cukup! kuantar kau pulang Dan sayang... Kau pasti tak akan melupakan keramaian itu Kerumunan massa mengeliling korban kecelakaan dan ya.... dia adalah senyummu yang terkapar ditengah lampu merah bahkan mati di tempat. Aih... Sakit benakku dirajam kelam Matilah aku! Haruskah aku menjalani hidup hanya dengan amarah dan tangismu ini? M. Amin Ashar